Catur mencoba menghadirkan lanskap kehancuran: sisa pepohonan yang patah, gunung meletus, asap pabrik, langit kelabu, tanah retak, dan bara yang belum sepenuhnya padam. Serangkaian satwa liar berjejer bukan untuk makan, tapi untuk menjadi saksi kerusakan. Tak ada roti atau anggur, hanya sebutir apel penanda harapan di tengah hening dan tanah gersang. Catur menggunakan pendekatan monokrom biru untuk menghadirkan nuansa duka yang menekan dan kesunyian yang pekat.
By Catur Nugroho









